“Sesungguhnya
orang yang terbaik dari kalangan kalian adalah yang paling baik akhlaqnya.”
(HR. Bukhari)
Ketika kita
membahas mengenai kemuliaan akhlaq (akhlaqul karimah) dalam frame berpikir
Islam, maka kita akan terikutkan dengan bahasan hubungan kita dengan Allah dan
hubungan kita dengan sesama manusia, yang bahasa kerennya adalah HablumminaLlah
dan Hablumminannaas. Keserasian keduanya merupakan syarat akan sebuah kebaikan
iman.
Jika kita
menggambarkan dalam bentuk grafik, maka keserasian ini tergambarkan secara
linear dari titik pusat O ke kanan atas yang merupakan linear positif. Semakin
baik hubungan kita dengan sesama manusia dalam berukhuwwah, maka akan semakin
baik hubungan kita secara iman vertikal dalam hablumminaLlah. Seperti yang
diungkapkan dalam surah An Nisaa':36 berikut ini:
"Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil
dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong
dan membangga-banggakan diri." (QS An Nisaa': 36)
Kelinearan ini adalah niscaya
dalam konteks kebaikan. Ketika hablumminaLlah dikaitkan dengan kemurnian aqidah
dan ibadah yang benar ditambah pemenuhan syarat berbuat baik bahkan hanya
dengan seminimum salamatushshadr (berlapang dada) sampai dengan semaksimum itsar (mengutamakan orang lain), maka ini adalah menjadi wajib dalam bentuk
perintah dari Allah untuk orang-orang mu'min.
Betapa luar biasa Islam mengatur
kedua hubungan ini. Bahwa keduanya saling terikat satu sama lain. Silaturrahim
akan memperpanjang rizqi, shodaqoh jariyah berpahala amal dunia akhirat, dan
sebagainya.
Tak bisa tersentuh, tapi bisa
dirasakan dampaknya...
Tak bisa diukur, tapi ada ikatan
hati yang tercipta...
Ikatan hati yang kekalnya dunia
akhirat...
Mari kita saling mengingat dalam
doa-doa kita...
AB; Isb 101015

Komentar
Posting Komentar