Langsung ke konten utama

Laa ilaaha illallah, Muslim cinta NKRI

Sadar dan tidak sadar, pemikiran sekularisme mulai digaungkan lagi di banyak tempat. Lebih jauh lagi, pahaman ini digunakan media untuk membentuk opini mengeluarkan unsur agamis yang dianggap asing dari kebangsaan dan isu nasional.

Kini di tanah air, pihak-pihak tidak bertanggungjawab berusaha mengaburkan kesyumuliyahan Islam dengan mengarusutamakan isu nasionalisme. Upaya pengaburan ini bahkan menepiskan upaya pergerakan nasional yang oleh para pejuang kemerdekaan dibangun dengan pondasi tauhid.

Isu lain secara global bisa kita lihat dengan maraknya fobia atau ketakutan terhadap Islam dan pemeluknya. Pengetahuan yang setengah-setengah dan informasi satu arah dari media mainstream adalah bentuk dari kegagalpahaman global akan Islam. Positifnya dari hal ini adalah dengan semakin banyaknya orang yang semula tidak pernah tahu sama sekali mengenai Islam berupaya untuk menepis kegagalpahamannya dengan mempelajari dan bahkan berupaya masuk ke komunitas muslimin.

Tidak jauh dengan apa yang terjadi di belahan barat, berita terbaru datang dari Australia terkait foto dua anak perempuan berjilbab yang memegang bendera Australia yang menuai protes bahwa hal ini tidak sesuai dengan jiwa nasionalisme. Lalu, apakah kedua anak tadi tidak diakui sebagai warga negara kalau mereka beragama Islam dan menjalankan keyakinan agamanya? Di sini, kamilah yang gagal paham. Begitupun kami gagal paham dengan upaya fobia Islam di tengah-tengah kaum muslimin tanah air. Kenapa kita di Indonesia dengan mayoritas muslimin 80 sekian persen harus berupaya meyakinkan satu sama lain, 'Laa ilaaha illaLlah, Muslim cinta NKRI.'

Apakah nasionalisme? Apakah kebangsaan?
Kami berupaya mengingatkan pada diri kami sendiri. Bahwa tanah air umat Islam, adalah tanah air kami. Selama masih ada muslimin dalam tanah itu, maka akan kami bela. Karena ikatan ini bukan hanya ikatan kewarganegaraan saja yang terbatas pada teritori. Karena ikatan ini adalah ikatan aqidah yang hubungannya lebih erat, yang pengikatnya adalah hati-hati yang berpaut dalam cinta karena Allah. Dan ketika seorang muslim mencintai Allah dan mencintai agamanya dengan iman, maka ia akan membela sepenuh jiwa akan tanah airnya. Tidak akan tergoyahkan dari bentuk penjajahan apapun dan bagaimanapun.

Lalu apa kaitannya dengan kegagalpahaman akan kesyumuliyahan Islam?
Ketika seorang muslim memahami dengan baik akan hal ini, ia tidak akan mempertanyakan apa dan kenapa harus ada pemikiran-pemikiran Islam di undang-undang dan ketakutan akan adanya batasan-batasan akan kehidupannya. Ketika seorang muslim tidak gagal paham, ia akan meyakini dengan sepenuh hati, bahwa ketentuan Allah adalah baik bagi pemahaman kita yang terlalu sempit. Ketika seorang muslim mau untuk belajar paham, ia akan berupaya mengerti dengan mencoba melihat berbagai sudut pandang dengan bingkai iman.

Mari kita kenali lagi, Islam yang syumul ini ada di sudut mana dalam diri kita.

Ayo lebih baik!
Muslim cinta NKRI!

AB, Isb 270117

Komentar

Paling Populer

Cara PKS Mengatasi Masalah )I( by Mahfudz Siddiq

Tidak seperti dugaan sebagian pengamat bahwa munculnya kasus penangkapan Luthfi Hasan Ishaq (LHI) akan membuat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terhenti, setidaknya, untuk sementara. Faktanya, PKS justru bergerak lebih cepat. Bagaimana cara PKS melewati masalah? Berikut ini Mahfudz Siddiq membeberkannya dalam kulwit #carakami: 1- saat terima kabar kasus LHI, hari itu kami himpun semua info. Trmsk klarifikasi langsung dari LHI, Presiden PKS. #carakami 2- ini prinsip "memahami persoalan adl setengah dari solusi". Lalu hari itu juga para pimpinan PKS musyawarah, trmsk LHI. #carakami 3- orientasi musyawarah kami adalah menjaga kebaikan bersama, dan meminimalkan kerusakan yg bisa timbul. Kesadaran kolektivitas. #carakami 4- kami dpt info kasus LHI akan dikembangkan sdmkn rupa. Ada nuansa politik & hukum. Ya, politik mmg kompetisi dan pertarungan. #carakami 5- sikap kami: tdk akan biarkan siapapun siapkan lorong panjang untuk PKS. Kami hrs sgr ambil ke...

Belajar Dari Kasus Hukum Misbakhun, Menengok Kasus Ustad Luthfi Hasan Ishaq

Jika ingin tahu betapa jahatnya konspirasi politik, maka bertanyalah pada MISBAKHUN. Jika ingin tahu betapa dahsyatnya fitnah dan propaganda media, maka bertanyalah pada MISBAKHUN. Mantan anggota DPR dari Fraksi PKS Misbakhun adalah korban kriminalisasi politik dan konspirasi media. Perjuanganya dalam mengungkap skandal CENTURY (pansus century) yang melibatkan penguasa telah mengantarnya kedalam penjara pada 26 April 2010 silam. Dia dilaporkan oleh Staf Kepresidenan Andi Arif atas dugaan penggunaan LC fiktif. Saat itu Misbakhun dituntut 8tahun penjara. Disaat banyak telunjuk menghakimi dirinya dengan tuduhan korupsi, disaat makian dan sumpah serapah datang bertubi-tubi, maka pada saat itu juga Misbakhun mencoba bangkit berjuang, dia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak melakukan apa yang orang-orang dituduhkan. Dalam terali besi dia terus berjuang menuntut keadilan yang telah dirampas penguasa, melawan tekanan-tekanan politik yang semena-mena. Dengan ber...

Recovery PKS vs Recovery Partai Demokrat

Tulisan seorang akademisi di kotanya Jokowi, "Mendengarkan pidato penyelamatan partai demokrat malam ini, terasa sekali bedanya dgn PKS. Demokrat dan PKS sama-sama mengalami prahara, tapi strategi penanganannya jauh berbeda. Jika Demokrat kerisauan elit partai atas turunnya elektabilitas mendesak sBY segera turun tangan, di PKS pemicu penyelamatan lebih berat lagi dengan adanya konspirasi tirani kekuasaan.. Jika Demokrat butuh waktu berbulan-bulan utk mengambil keputusan penyelamatan yg juga masih menggantung, PKS cuma butuh waktu 2 hari utk recovery dan berlari kembali dengan semangat menggunung.. Jika di Demokrat Ketua Dewan Pembina dan Ketua Majelis Tinggi Demokrat yg juga merangkap sbg Presiden RI terpaksa harus turun gunung menyelesaikan kemelut, di PKS cukup dengan Sekjen Partai yg rela melepas jabatannya utk berjibaku membakar semangat kader dan membuat publik salut.. Jika Demokrat butuh 8 langkah teknis sbg strategi (ini bahkan lebih dari jatah nomor...