“Manusia adalah binatang sosial,” kata
Sehingga
menurut pembicara yang juga mantan Ketua Tanfidziyah PCI-NU Pakistan
ini, yang membedakan manusia dengan binatang adalah aspek sosialnya. Semacam
kecenderungan manusia membangun komunitas-komunitas sesuai kebutuhan dan
tingkatannya berdasarkan kekerabatan, profesi, dan lainnya.
Di hadapan masyarakat PPMI (Persatuan
Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Pakistan, Rizki menjelaskan status dan peran
seorang individu dalam sebuah komunitas. Menurutnya, status adalah jelmaan dari
hak, sedangkan peran adalah jelmaan dari kewajiban.
“Status dan peran setiap
mahasiswa tentu berbeda dengan yang lainnya, namun secara generic dapat
dijabarkan sebagai berikut; sebagai Duta Bangsa ia berperan mempromosikan
kepentingan dan kemaslahatan nasional, sebagai Muslim ia menjaga dan mempererat
tali ukhuwah sesama muslim, sebagai Pelajar ia menambah wawasan keilmuan
sebagai bekal mengabdi di tanah air, dan sebagai Anggota komunitas ia
berpartisipasi dan berkontribusi dalam peningkatan kualitas organisasi,”
jelasnya memberikan perumpamaan.
Menyinggung budaya,
tradisi dan norma sebuah masyarakat, Rizki mengungkapkan, “Bahwa dalam sebuah
komunitas selalu dibangun atas nilai, budaya, tradisi, dan norma yang unik atau
berbeda. Maka sudah menjadi kewajiban moral mahasiswa untuk menghormati dan
mengikuti norma dan aturan yang ada pada lingkup masyarakat yang beragam tadi
di mana ia hidup.”
Pada akhir pemaparan, pria
asal Cianjur ini memberikan kesimpulan, “Bahwa kehidupan sosial mahasiswa
Indonesia di Pakistan sejatinya memiliki dua tujuan dan target utama,
memperluas horizon dan mengubah dari monolitik menuju pluralistik.”
Memperluas horizon
maksudnya adalah melebarkan interaksi guna terbukanya wawasan dan pengetahuan.
Sedangkan mengubah monolitik ke pluralistik maksudnya agar kita tidak lagi
melihat suatu permasalahan hanya dari satu kacamata saja.
Sesi I yang juga merupakan
Pembukaan Daurah Summer 2013 ini juga dimanfaatkan sebagai ajang perpisahan
Rizki Hegia Sampurna, M.A. yang akan kembali ke Indonesia pada tanggal 5 Juli
ini. Bekerjasama dengan PPMI Pakistan akhirnya acara ini dapat berjalan dengan
memuaskan. Tampak hadir sekitar dua puluh mahasiswa yang saat ini sedang studi
di IIUI (International Islamic University Islamabad).
Dalam sambutannya, Ketua
PPMI Pakistan, Hatta Fahamsyah, S.Th.I., mengatakan bahwa PPMI akan menggiatkan
kerjasama-kerjasama kelembagaan dengan beberapa komunitas di sekitarnya.
Seperti PCI-NU, PCI Muhammadiyah, PIP PKS, IKPM Gontor, IKAAI, FOSPI (Persis),
FLP, LTQ Ibnu Abbas, dan sebagainya.
“Dan kami dari PPMI
mengapresiasi kepada salah satu LK (Lembaga Khusus) yang ada di Pakistan, yaitu
secara khususnya PIP PKS, yang telah mengadakan acara pertama semenjak kami
mengemban amanat dalam pengurus ini. LK pertama yang telah bergerak dalam
bidang keilmuan secara umumnya, sehingga menjadi stimulus atau rangsangan bagi
LK-LK lain,” kata Hatta mengapresiasi.
Sebagaimana yang juga disampaikan oleh Rizki, “Terima
kasih kepada PIP PKS yang telah memulai ini, insyaAllah PCI-NU akan segera
menyusul dengan program-program keilmuannya.”
Sementara Muhammad Irfan
Abdul Aziz selaku Ketua PIP PKS Pakistan menyampaikan, bahwa agenda Daurah
Summer adalah program tahunan PIP PKS Pakistan. Tujuannya sebagai ajang
silaturrahim fisik maupun pemikiran, di mana ide-ide yang semula milik
individual menjadi ide-ide komunal yang dapat diaplikasikan untuk kemaslahatan
bersama.
Semoga dengan kajian ini,
kita termotivasi untuk memperbesar cakupan identitas kita dari yang sempit
(‘we’ kecil) menjadi lebih besar dan luas (‘WE’ besar), sebagaimana yang
dipesankan Pembicara. Maka, mari fokus dengan agenda-agenda keumatan dan
kebangsaan. Kita mungkin memang mengenakan baju komunitas yang berbeda, namun
kita tetap bisa saling mensupport agenda-agenda yang menghadirkan kemaslahatan
bersama.
Agenda ini masih
menyisakan 3 sesi berikutnya. Rencananya akan dibarengkan dengan agenda ifthar
jama’i yang disiapkan oleh PIP PKS Pakistan pada tahun 1434 H ini.[]

Komentar
Posting Komentar