Langsung ke konten utama

Mengubah ‘we’ Individual-Sektoral menuju ‘WE’ Komunal-Universal


              “Manusia adalah binatang sosial,” kata Darwin mewakili pemikiran Barat. Sementara Ibnu Khaldun selaku sosiolog muslim mengistilahkan, “Madaniyyun bithobi’ (makhluk Sosial / makhluk Politik, terj.)” Begitu buka Rizki Hegia Sampurna, M.A. selaku Pembicara sesi I dalam rangkaian Daurah Summer 2013 PIP PKS Pakistan yang bertemakan “Kehidupan Sosial Mahasiswa Indonesia di Pakistan”, pada Rabu (3/7) pukul 18.00 - 21.00 PKT.
            Sehingga menurut pembicara yang juga mantan Ketua Tanfidziyah PCI-NU Pakistan ini, yang membedakan manusia dengan binatang adalah aspek sosialnya. Semacam kecenderungan manusia membangun komunitas-komunitas sesuai kebutuhan dan tingkatannya berdasarkan kekerabatan, profesi, dan lainnya.
            Di hadapan masyarakat PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Pakistan, Rizki menjelaskan status dan peran seorang individu dalam sebuah komunitas. Menurutnya, status adalah jelmaan dari hak, sedangkan peran adalah jelmaan dari kewajiban.
            “Status dan peran setiap mahasiswa tentu berbeda dengan yang lainnya, namun secara generic dapat dijabarkan sebagai berikut; sebagai Duta Bangsa ia berperan mempromosikan kepentingan dan kemaslahatan nasional, sebagai Muslim ia menjaga dan mempererat tali ukhuwah sesama muslim, sebagai Pelajar ia menambah wawasan keilmuan sebagai bekal mengabdi di tanah air, dan sebagai Anggota komunitas ia berpartisipasi dan berkontribusi dalam peningkatan kualitas organisasi,” jelasnya memberikan perumpamaan.
            Menyinggung budaya, tradisi dan norma sebuah masyarakat, Rizki mengungkapkan, “Bahwa dalam sebuah komunitas selalu dibangun atas nilai, budaya, tradisi, dan norma yang unik atau berbeda. Maka sudah menjadi kewajiban moral mahasiswa untuk menghormati dan mengikuti norma dan aturan yang ada pada lingkup masyarakat yang beragam tadi di mana ia hidup.”
            Pada akhir pemaparan, pria asal Cianjur ini memberikan kesimpulan, “Bahwa kehidupan sosial mahasiswa Indonesia di Pakistan sejatinya memiliki dua tujuan dan target utama, memperluas horizon dan mengubah dari monolitik menuju pluralistik.”
            Memperluas horizon maksudnya adalah melebarkan interaksi guna terbukanya wawasan dan pengetahuan. Sedangkan mengubah monolitik ke pluralistik maksudnya agar kita tidak lagi melihat suatu permasalahan hanya dari satu kacamata saja.
            Sesi I yang juga merupakan Pembukaan Daurah Summer 2013 ini juga dimanfaatkan sebagai ajang perpisahan Rizki Hegia Sampurna, M.A. yang akan kembali ke Indonesia pada tanggal 5 Juli ini. Bekerjasama dengan PPMI Pakistan akhirnya acara ini dapat berjalan dengan memuaskan. Tampak hadir sekitar dua puluh mahasiswa yang saat ini sedang studi di IIUI (International Islamic University Islamabad).
            Dalam sambutannya, Ketua PPMI Pakistan, Hatta Fahamsyah, S.Th.I., mengatakan bahwa PPMI akan menggiatkan kerjasama-kerjasama kelembagaan dengan beberapa komunitas di sekitarnya. Seperti PCI-NU, PCI Muhammadiyah, PIP PKS, IKPM Gontor, IKAAI, FOSPI (Persis), FLP, LTQ Ibnu Abbas, dan sebagainya.
            “Dan kami dari PPMI mengapresiasi kepada salah satu LK (Lembaga Khusus) yang ada di Pakistan, yaitu secara khususnya PIP PKS, yang telah mengadakan acara pertama semenjak kami mengemban amanat dalam pengurus ini. LK pertama yang telah bergerak dalam bidang keilmuan secara umumnya, sehingga menjadi stimulus atau rangsangan bagi LK-LK lain,” kata Hatta mengapresiasi.
Sebagaimana yang juga disampaikan oleh Rizki, “Terima kasih kepada PIP PKS yang telah memulai ini, insyaAllah PCI-NU akan segera menyusul dengan program-program keilmuannya.”
            Sementara Muhammad Irfan Abdul Aziz selaku Ketua PIP PKS Pakistan menyampaikan, bahwa agenda Daurah Summer adalah program tahunan PIP PKS Pakistan. Tujuannya sebagai ajang silaturrahim fisik maupun pemikiran, di mana ide-ide yang semula milik individual menjadi ide-ide komunal yang dapat diaplikasikan untuk kemaslahatan bersama.
            Semoga dengan kajian ini, kita termotivasi untuk memperbesar cakupan identitas kita dari yang sempit (‘we’ kecil) menjadi lebih besar dan luas (‘WE’ besar), sebagaimana yang dipesankan Pembicara. Maka, mari fokus dengan agenda-agenda keumatan dan kebangsaan. Kita mungkin memang mengenakan baju komunitas yang berbeda, namun kita tetap bisa saling mensupport agenda-agenda yang menghadirkan kemaslahatan bersama.
            Agenda ini masih menyisakan 3 sesi berikutnya. Rencananya akan dibarengkan dengan agenda ifthar jama’i yang disiapkan oleh PIP PKS Pakistan pada tahun 1434 H ini.[]

Komentar

Paling Populer

Cara PKS Mengatasi Masalah )I( by Mahfudz Siddiq

Tidak seperti dugaan sebagian pengamat bahwa munculnya kasus penangkapan Luthfi Hasan Ishaq (LHI) akan membuat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terhenti, setidaknya, untuk sementara. Faktanya, PKS justru bergerak lebih cepat. Bagaimana cara PKS melewati masalah? Berikut ini Mahfudz Siddiq membeberkannya dalam kulwit #carakami: 1- saat terima kabar kasus LHI, hari itu kami himpun semua info. Trmsk klarifikasi langsung dari LHI, Presiden PKS. #carakami 2- ini prinsip "memahami persoalan adl setengah dari solusi". Lalu hari itu juga para pimpinan PKS musyawarah, trmsk LHI. #carakami 3- orientasi musyawarah kami adalah menjaga kebaikan bersama, dan meminimalkan kerusakan yg bisa timbul. Kesadaran kolektivitas. #carakami 4- kami dpt info kasus LHI akan dikembangkan sdmkn rupa. Ada nuansa politik & hukum. Ya, politik mmg kompetisi dan pertarungan. #carakami 5- sikap kami: tdk akan biarkan siapapun siapkan lorong panjang untuk PKS. Kami hrs sgr ambil ke...

Belajar Dari Kasus Hukum Misbakhun, Menengok Kasus Ustad Luthfi Hasan Ishaq

Jika ingin tahu betapa jahatnya konspirasi politik, maka bertanyalah pada MISBAKHUN. Jika ingin tahu betapa dahsyatnya fitnah dan propaganda media, maka bertanyalah pada MISBAKHUN. Mantan anggota DPR dari Fraksi PKS Misbakhun adalah korban kriminalisasi politik dan konspirasi media. Perjuanganya dalam mengungkap skandal CENTURY (pansus century) yang melibatkan penguasa telah mengantarnya kedalam penjara pada 26 April 2010 silam. Dia dilaporkan oleh Staf Kepresidenan Andi Arif atas dugaan penggunaan LC fiktif. Saat itu Misbakhun dituntut 8tahun penjara. Disaat banyak telunjuk menghakimi dirinya dengan tuduhan korupsi, disaat makian dan sumpah serapah datang bertubi-tubi, maka pada saat itu juga Misbakhun mencoba bangkit berjuang, dia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak melakukan apa yang orang-orang dituduhkan. Dalam terali besi dia terus berjuang menuntut keadilan yang telah dirampas penguasa, melawan tekanan-tekanan politik yang semena-mena. Dengan ber...

Recovery PKS vs Recovery Partai Demokrat

Tulisan seorang akademisi di kotanya Jokowi, "Mendengarkan pidato penyelamatan partai demokrat malam ini, terasa sekali bedanya dgn PKS. Demokrat dan PKS sama-sama mengalami prahara, tapi strategi penanganannya jauh berbeda. Jika Demokrat kerisauan elit partai atas turunnya elektabilitas mendesak sBY segera turun tangan, di PKS pemicu penyelamatan lebih berat lagi dengan adanya konspirasi tirani kekuasaan.. Jika Demokrat butuh waktu berbulan-bulan utk mengambil keputusan penyelamatan yg juga masih menggantung, PKS cuma butuh waktu 2 hari utk recovery dan berlari kembali dengan semangat menggunung.. Jika di Demokrat Ketua Dewan Pembina dan Ketua Majelis Tinggi Demokrat yg juga merangkap sbg Presiden RI terpaksa harus turun gunung menyelesaikan kemelut, di PKS cukup dengan Sekjen Partai yg rela melepas jabatannya utk berjibaku membakar semangat kader dan membuat publik salut.. Jika Demokrat butuh 8 langkah teknis sbg strategi (ini bahkan lebih dari jatah nomor...