Langsung ke konten utama

Labor Mobilization: Urgensi dan Isu Bersama yang Melingkupinya

Meningkatnya koordinasi dan kerjasama regional memperlihatkan perkembangan isu skill mobilization atau yang kita pahami sebagai mobilisasi keahlian sebagai bagian dari konsep migrasi dalam bahasan ekonomi global. Migrasi yang dimaksud dalam konteks ini bukan sekadar migrasi penduduk atau penanganan pengungsi (refugee), karena sudah ada bidang tersendiri yang menangani hal tersebut. Migrasi yang kita maksud disini adalah migrasi tenaga kerja dari satu Negara ke Negara yang lain atau yang biasa kita kenal dengan istilah migrant worker.
AISCO sebagai wadah komunitas mahasiswa Indonesia di Pakistan yang berkecimpung dalam isu-isu ekonomi dan ekonomi Islam berkesempatan pada Sabtu, 25 Februari 2017 lalu, untuk belajar dari Pak Guntur Sugiyarto, seorang Indonesia yang bekerja di Asian Development Bank (ADB) sebagai Principal Economist dan sedang dalam penempatan tugas di Pakistan. Dalam pertemuan ini, Pak Guntur menjelaskan presentasi beliau dalam forum APEC 2016 lalu dengan topik "Migration and Remittance in Asia: Key Issues and Policy Challenges Relevant to APEC economies”.
Dalam pembukaannya, beliau menjelaskan bahwa APEC berencana untuk melakukan skill atau labor mobilization diantara Negara-negaranya (21 negara maju dan berkembang) seperti halnya yang terjadi di ASEAN. Untuk lingkup ASEAN sendiri pada 2016 sudah mencapai tahap MRA (Mutual Recognition Agreements) pada 8 profesi utama (engineers, nursing services, architects, land surveyors, medical practitioners and dental practitioners, accountants, and tourism professionals). Dan dalam topik ini, beliau menjelaskan seputar isu migrasi tenaga kerja dan remiten.

Migrasi sebagai Isu Arus Utama

Kondisi dunia saat ini adalah kurangnya tenaga ahli di Negara-negara maju, sedangkan Negara berkembang memiliki kelebihan tenaga ahli. Atas dasar inilah APEC bertujuan membuat tata kelola tenaga kerja dengan melihat pengalaman yang terjadi di Asia (labor mobility framework). Regional Asia Selatan merupakan pelaku migrasi terbesar di Asia, diikuti oleh Asia Tenggara. Migrasi yang dilakukan tidak hanya inter-regional tetapi juga ke Timur Tengah dan Negara-negara lainnya.
Migrasi sendiri sempat memiliki persepsi negatif dengan banyaknya tenaga kerja tanpa keterampilan yang tersebar di banyak Negara. Akan tetapi, belakangan, migrasi tenaga kerja menjadi isu arus utama (mainstream) atas sebab berikut ini:
• Migrasi adalah bagian dari hak asasi manusia. Semua orang memiliki hak untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan obsesi atau passionnya. Sehingga semua orang pun berhak untuk mencari pekerjaan di mana pun yang ia mau termasuk di luar negeri.
Consequence of development. Migrasi adalah dampak dari pembangunan dan juga berdampak pada pembangunan suatu Negara (baik Negara pengirim maupun penerima tenaga kerja). Sebagai contoh negara seperti Malaysia, Amerika, Australia, dsb berhasil berkembang karena dampak migrasi.
• Ketimpangan demografi, perubahan iklim, serta perekonomian yang naik turun membuat manusia bermigrasi. Contohnya penduduk di negara maju bermigrasi untuk mencari pasar baru di negara-negara berkembang.
• Manusia bermigrasi juga karena kebutuhan negara maju akan tenaga kerja asing. Majunya suatu negara berdampak pada menurunnya keinginan untuk memiliki anak yang menyebabkan berkurangnya angkatan kerja (labor force) ditambah dengan meningkatnya aging society atau lansia. Dalam aging society, jumlah angkatan kerja yang sedikit membuat mereka sibuk untuk membiayai lansia, sehingga perekonomian nasional memerlukan daya dukung tambahan diantaranya dari imigrasi pekerja asing. Merujuk pada hal ini, migrasi pekerja pada caring industry menjadi berkembang pesat, dimana konsep caring industry adalah berfokus pada pelayanan dan perawatan (baik untuk infant, anak, difable, maupun lansia). Ketika sebuah negara dengan aging society seperti Jepang menarik pekerja asing untuk caring industrynya, angkatan kerjanya akan dapat difokuskan untuk memajukan perekonomian.
Dengan berbagai faktor yang menyebabkan migrasi diatas, ditambah dengan migrasi sebagai konsep arus utama, serta keterlibatan banyak Negara dalam berbagai aspek, menyebabkan kerjasama dan regulasi mengenai hal ini sangatlah penting untuk dilakukan terutama untuk menghindari eksploitasi tenaga kerja. Dalam SDGs (Sustainable Development Goals, yaitu kelanjutan dari MDGs yang berakhir 2015 lalu) sendiri, migrasi menjadi bahasan dalam lima tema, tujuh target, dan empat belas indikator.

Remiten dan Kurangnya Perhatian Dunia
Isu lain terkait migrasi tenaga kerja yang perlu menjadi perhatian adalah mengenai remiten, yaitu upah yang dikirimkan oleh penduduk yang bekerja di negara asing kepada sanak saudara atau kerabatnya di negara asal. Remiten belum menjadi perhatian saat ini, padahal remiten menyumbangkan persentase yang tidak sedikit pada pertumbuhan ekonomi negara dan juga GDP meski tidak ada departemen khusus yang menangani remiten. Bahkan di negara bagian Asia Tengah dan Asia Selatan sumbangan remiten pada negara lebih besar dari sumbangan di bidang pariwisata.

Arus masuk remiten juga lebih besar dari ODA (overseas development assistance) dan dianggap lebih stabil serta bisa diandalkan. Bahkan remiten memiliki kecenderungan untuk terus meningkat serta tidak terpengaruh oleh fluktuasi harga minyak.
Biaya pengiriman remiten saat ini mencapai 7.4%, padahal biaya pengiriman remiten tidak boleh lebih dari 5%. Ini tentunya menyulitkan penduduk yg tinggal di negara asing ketika mereka ingin mengirim uang ke negara asalnya. Belum lagi segala regulasi dari bank yang menyulitkan nasabah.
Dari topik ini dapat disimpulkan bahwa skill mobilization adalah sesuatu yang niscaya dan membutuhkan penanganan khusus terkait dengan standar dan regulasi bersama. Ditambah dengan regulasi mengenai remiten diantaranya terkait dengan kemudahan transaksi perbankan dan pengurangan biaya pengiriman, karena remiten juga dapat dijadikan jaminan untuk pembangunan dalam negeri.

Resume oleh Juliani Tri Puspitaningrum dan Ahyani Billah


Komentar

Paling Populer

Cara PKS Mengatasi Masalah )I( by Mahfudz Siddiq

Tidak seperti dugaan sebagian pengamat bahwa munculnya kasus penangkapan Luthfi Hasan Ishaq (LHI) akan membuat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terhenti, setidaknya, untuk sementara. Faktanya, PKS justru bergerak lebih cepat. Bagaimana cara PKS melewati masalah? Berikut ini Mahfudz Siddiq membeberkannya dalam kulwit #carakami: 1- saat terima kabar kasus LHI, hari itu kami himpun semua info. Trmsk klarifikasi langsung dari LHI, Presiden PKS. #carakami 2- ini prinsip "memahami persoalan adl setengah dari solusi". Lalu hari itu juga para pimpinan PKS musyawarah, trmsk LHI. #carakami 3- orientasi musyawarah kami adalah menjaga kebaikan bersama, dan meminimalkan kerusakan yg bisa timbul. Kesadaran kolektivitas. #carakami 4- kami dpt info kasus LHI akan dikembangkan sdmkn rupa. Ada nuansa politik & hukum. Ya, politik mmg kompetisi dan pertarungan. #carakami 5- sikap kami: tdk akan biarkan siapapun siapkan lorong panjang untuk PKS. Kami hrs sgr ambil ke...

Belajar Dari Kasus Hukum Misbakhun, Menengok Kasus Ustad Luthfi Hasan Ishaq

Jika ingin tahu betapa jahatnya konspirasi politik, maka bertanyalah pada MISBAKHUN. Jika ingin tahu betapa dahsyatnya fitnah dan propaganda media, maka bertanyalah pada MISBAKHUN. Mantan anggota DPR dari Fraksi PKS Misbakhun adalah korban kriminalisasi politik dan konspirasi media. Perjuanganya dalam mengungkap skandal CENTURY (pansus century) yang melibatkan penguasa telah mengantarnya kedalam penjara pada 26 April 2010 silam. Dia dilaporkan oleh Staf Kepresidenan Andi Arif atas dugaan penggunaan LC fiktif. Saat itu Misbakhun dituntut 8tahun penjara. Disaat banyak telunjuk menghakimi dirinya dengan tuduhan korupsi, disaat makian dan sumpah serapah datang bertubi-tubi, maka pada saat itu juga Misbakhun mencoba bangkit berjuang, dia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak melakukan apa yang orang-orang dituduhkan. Dalam terali besi dia terus berjuang menuntut keadilan yang telah dirampas penguasa, melawan tekanan-tekanan politik yang semena-mena. Dengan ber...

Recovery PKS vs Recovery Partai Demokrat

Tulisan seorang akademisi di kotanya Jokowi, "Mendengarkan pidato penyelamatan partai demokrat malam ini, terasa sekali bedanya dgn PKS. Demokrat dan PKS sama-sama mengalami prahara, tapi strategi penanganannya jauh berbeda. Jika Demokrat kerisauan elit partai atas turunnya elektabilitas mendesak sBY segera turun tangan, di PKS pemicu penyelamatan lebih berat lagi dengan adanya konspirasi tirani kekuasaan.. Jika Demokrat butuh waktu berbulan-bulan utk mengambil keputusan penyelamatan yg juga masih menggantung, PKS cuma butuh waktu 2 hari utk recovery dan berlari kembali dengan semangat menggunung.. Jika di Demokrat Ketua Dewan Pembina dan Ketua Majelis Tinggi Demokrat yg juga merangkap sbg Presiden RI terpaksa harus turun gunung menyelesaikan kemelut, di PKS cukup dengan Sekjen Partai yg rela melepas jabatannya utk berjibaku membakar semangat kader dan membuat publik salut.. Jika Demokrat butuh 8 langkah teknis sbg strategi (ini bahkan lebih dari jatah nomor...