Oleh: Nandang Burhanudin
4. Kepada rakyat Mesir, diharapkan untuk tidak mempercayai gosip dan
isu-isu murahan yang disebar kaum oportunis.
Sumber: http://www.facebook.com/groups/162511233845646/permalink/357636887666412/
Tak ada pemimpin Arab yang paling menanti kondisi Mesir
akhir-akhir ini, selain pemimpin UEA Syaikh Muhammad bin Zayid. Kondisi
"chaos" Mesir dengan target: melengserkan Moursi sejak lama menjadi
agenda utamanya, bekerjasama dengan Marsekal Thanthawi sebelum diberhentikan
oleh Moursi.
Dewan Tinggi Militer Mesir yang dipimpin oleh Marsekal Thanthawi
dan kaum Liberal yang digalang Syafiq, Elbaradai, Amr Mousa sebenarnya telah
lama merancang kejatuhan Moursi. Untuk rencana tersebut, Marsekal Thanthawi
mendapatkan gelontoran dana yang langsung ditransfer ke rekening pribadi di Abu
Dhabi. Jumlahnya sangat fantastis, mencapai 300 juta dollar AS.
Komunikasi makar yang dilakukan Marsekal Thanthawi bersama dengan
perwakilan UAE yaitu Muhammad Wasif bin Zayid. Namun, konspirasi yang ditopang
negara-negara petro dollar mulai dari Saudi Arabia, Emirat, Oman, dan Kuwait
ini tercium Moursi. Intelejen Mesir mengungkap adanya "ruang komando"
yang dikendalikan dari Abu Dhabi yang langsung dipimpin oleh Muhammad Zayid.
Moursi pun bergerak cepat. Secara dramatis Moursi memecat 72 Pati
dan Pamen berikut Sang jenderal Tua, Marsekal Thantawi. Serta merta, Marsekal
Thanthawi pun melaporkan nasib yang ia alami kepada pihak UAE yang merespon
melalui Kedubes UAE di Kairo, untuk menjemput Thantawi ke UAE berapapun
harganya. Namun, tak ada yang mengira, Moursi lebih dulu mencekal, hingga
Thantawi tak bisa bepergian ke luar negeri.
Kendati sukses mengembalikan militer ke barak, Moursi sadar betul
bahwa tantangan selanjutnya tidak ringan. Karena lawan-lawan politik IM yang
didanai UAE mengubah strategi dengan target yang sama. Di antara strateginya
adalah:
1. Menjadikan media-media TV-koran-majalah-radio sebagai corong
terdepan menebar kebohongan. Targetnya: memecah belah masyarakat Mesir,
sekaligus memperburuk cintra Moursi yang pernah mencapai 65 % dari segi
penerimaan masyarakat kepadanya. Contoh pengaruh media adalah saat Moursi
memberhentikan Jaksa Agung era Mubarak dan menugaskannya menjadi Dubes di
Vatikan. Keputusan tersebut ditentang habis-habisan oleh media, hingga Moursi
menunda pembebastugasan tersebut.
2. Melakukan konsolidasi dengan tokoh-tokoh Nasionalis-Sekuler
untuk sama-sama mengerahkan massa demi menciptakan kondisi "chaos" di
jalanan Mesir.
3. Mendanai sekaligus mempersenjatai preman-preman jalan, para
pemabuk, dan pemakai narkoba untuk bertindak anarkis dan menyerang siapapun
yang menentang, merampok toko-toko, dan menargetkan kader-kader IM. Terbukti,
di depan istana Ittihadiyah ditemukan botol-botol miras, narkoba, dan
obat-obatan.
4. Secara intensif menggerakkan tokoh-tokoh Nasionalis untuk
membuat blok tandingan IM-Salafy. NNM News mengutip kantor berita Israel Haartz yang
"mencurigai" pertemuan rahasia antara Amr Mousa dengan Romy Levy di
Ramallah. Tujuannya adalah: membuat koalisi Arab-Israel melawan gerakan Islam
(spesifiknya: Salafy-IM).
Menurut Haartz, "Pertemuan keduanya sangat tidak biasa, di
tempat yang tidak biasa, dan diikuti pebisnis Israel dari parati Likud Romy
Levi dan mantan Sekjend Liga Arab Amr Mousa di rumah pebisnis Palestina di
Nablus."
Menurut pakar stategis Thala'at Rumaih dan wartawan Khalid
Abdullah, tindakan Moursi yang tidak memerintahkan polisi anti huru-hara
bersikap tegas, memang dinilai sebagian kalangan adalah titik lemah Moursi yang
cenderung berdamai dengan para oposan. Demikian juga dengan sikap koalisi
IM-Salafy yang melarang kader-kader dan simpatisannya melawan teror dengan
teror. Semua disebabkan, Moursi-IM-Salafy Mesir memahami bahwa aksi di lapangan
adalah bagian dari skenario global bukan didasari tuntutan dari nurani rakyat.
Oleh karena itu, tindakan yang dilakukan Poros Koalisi Kekuatan Islam adalah:
1. Menyerukan kepada Front Penyelemat Tanah Air untuk menarik
kerumunan para penentang Presiden Moursi dari depan Istana Ittihadiyah, demi
menghindari bentrok fisik dan perang saudara dengan para pendukung Presiden
Moursi yang telah mengepung istana Ittihadiyah sejak Rabu sore (5/12/12)
kemarin dengan jumlah massa yang sangat banyak.
2. Melakukan konsolidasi secara masif dan terstruktur seluruh
elemen pendukung Presiden Moursi. Tujuannya memutus makar kudeta yang dilakukan
oleh orang-orang bayaran, antek-antek Mubarak, dan kaum oportunis yang
memanfaatkan anak-anak muda revolusioner sebagai garda terdepan. Semua kader
dan simpatisan Moursi-IM-Salafy dierintahkan berjaga-jaga di depan Istana
Ittihadiyah hingga selesainya referendum (15 Desember mendatang).
3. Menuntut Presiden Moursi untuk mengeluarkan keputusan Presiden
yang tegas dan berwibawa terhadap pihak-pihak yang melakukan makar. Untuk
kemudian mengungkapkan kejahatan mereka di depan publik, agar masyarakat tahu
siapa revolusioner sejati dan mana oportunis.
Sumber: http://www.facebook.com/groups/162511233845646/permalink/357636887666412/

Komentar
Posting Komentar