Karena tempat yang tidak
memungkinkan, acara ini akhirnya hanya dikhususkan untuk mahasiswa dan
bertempat di Hostel 3 Male Kampus. Di antara yang hadir adalah mahasiswa S2
bidang Tafsir, Hasan Juhanis asal Palopo Makassar. Tampak pula mahasiswa S3
bidang Hadits, E. Hanafiah asal Bandung ,
yang hadir dengan membawa putri mungilnya yang baru berusia sekitar 6 bulan.
Acara yang sedianya juga
digelar untuk pelepasan jama’ah haji dari warga PPMI Pakistan ini akhirnya
hanya difokuskan untuk Kajian Olahraga. Sebagaimana yang disampaikan oleh
Sukron Makmun kepada panitia, dikarenakan kesibukan para jama’ah haji pada
waktu yang bersamaan, sehingga tidak dapat hadir dalam acara ini. Namun demikian,
tampak Achmad Faruki, Retno Ahmad Pujiono, dan Abdurrahman Qosim dari jama’ah
haji tahun ini yang menyempatkan hadir di tiga puluh menit pertama acara
berlangsung.
Dipandu oleh Wiprasworo
Jihwamuni selaku moderator, kajian bersama Bp. Unggul Wibawa, mantan Ketua Departemen
Olahraga (DORA) Bidang Pembinaan Pemuda DPP PKS, ini mengangkat topik bahasan
“Urgensi Kebugaran Bagi Seorang Muslim”. Delapan belas mahasiswa Indonesia
yang saat ini sedang studi di kampus International Islamic University Islamabad
tampak khidmat menyimak pemaparan materi yang berlangsung secara online. Mereka
adalah mahasiswa Indonesia
dari beragam daerah yang kini sedang menekuni bidang Ushuluddin, Syari’ah, Nano
Teknologi, dll.
“Seorang muslim, seorang
aktivis dakwah, hendaknya selalu menjaga kebugaran tubuhnya. Hal ini penting,
agar ia selalu siap mengemban amanah dakwah dan amanah-amanah pemberdayaan
ummat kapan pun dan di mana pun. Definisi kebugaran yang paling simple mungkin adalah
bila antum melakukan beragam aktivitas siang dan malam, namun tubuh antum tetap
fit,” Himbau bapak Unggul di awal pemaparannya.
Selanjutnya bapak dari
empat anak yang saat ini diamanahi sebagai Ketua DPD PKS Tangerang Selatan ini
menyampaikan, “Jangan sedikit-sedikit mudah sakit. Giatlah berolahraga sebagai
sarana menjaga kebugaran. Dan target olahraga itu kebugaran tubuh kita. Tidak
sekadar sering berolahraga. Kita perlu cerdas berolahraga. Memilih jenis
olahraga yang pas bagi kita, yang tentunya akan melahirkan tubuh yang bugar.
Bukan sebaliknya, olahraga kita hanya menghadirkan lelah dan malah menurunkan
produktivitas amal.”
“Olahraga yang baik adalah
dengan prinsip FIT. F yang pertama adalah Frequency, yang idealnya dilakukan 2
hari sekali. Kemudian I adalah Intensity, yang sangat disesuaikan dengan denyut
optimal dengan penghitungannya sebagai berikut; (220 – usia) X 70 – 85%. Dan T
terakhir adalah Time, yaitu lamanya durasi olahraga yang dapat ditentukan
dengan ukuran waktu, jarak, atau kalori. Dan kalau saya boleh menambahkan,
terakhir lagi adalah E, yaitu Enjoy. Jadi kita perlu memilih jenis olahraga
yang kita enjoy melakukannya. Sehingga dapat kontinu kita melakukannya, karena
menikmati.” Begitu pesan bapak Unggul, memberikan tips-tips olahraga yang
efektif.
Kajian ini berakhir tepat
saat adzan Maghrib waktu Islamabad
berkumandang. Setelah sebelumnya dibuka sesi tanya jawab untuk dua penanya.
Anggi dengan pertanyaannya dampak tidur pagi bagi kebugaran, dan Qowi dengan
pertanyaannya apakah gerakan shalat dapat menggantikan olahraga bagi seorang
Muslim. Selanjutnya para peserta terlihat menikmati sajian ta’jil sederhana yang
disiapkan oleh panitia.
“Alhamdulillah, acara yang
kita agendakan masih dalam rangka Hari Olahraga Nasional ini dapat berlangsung.
Target kita bukan berapa banyak yang hadir, tetapi berapa banyak yang bisa kita
ubah mind set berolahraganya. Kita ingin kelak, olahraga-olahraga yang
dilakukan seorang Muslim itu tak sekadar bagian dari hobbi, atau sekadar penikmatan,
namun juga memerhatikan targetnya bahwa ia berolahraga adalah untuk memerkuat
fisik agar selalu bugar. Dan kebugaran yang kita pahami bukan sekadar pada
tampilan fisik, melainkan pada produktivitas amal yang bisa dilakukan dengan anugerah
tubuhnya itu. Sehingga jangan sampai pula setelah berolahraga justru kita perlu
istirahat yang panjang, karena lelah atau bahkan sakit, sehingga justru menurunkan
produktivitas amal kita.” ujar Irfan Abdul Aziz, Ketua PIP PKS Pakistan,
mengungkapkan harapannya dari penyelenggaraan acara ini.
Di lain kesempatan, Husnul,
salah satu peserta asal NTB, menyampaikan apresiasinya melalui pesan SMS.
“Mantap acaranya, sangat bermanfaat! Thanks,” ujarnya singkat.
Walaupun demikian, acara
ini menyisakan evaluasi yang perlu pembenahan di kemudian hari. “Kurangnya
koordinasi antar pengurus PPMI, undangan yang terlambat disampaikan
sebagiannya, dan waktu yang terlalu mepet, merupakan beberapa evaluasi kita
untuk penyelenggaraan acara ini,” jelas Anggi Maulana Rizqi, Ketua Umum PPMI
Pakistan.
Sementara Hisbullah
selaku Departemen Pengembangan Keilmuan PPMI Pakistan dalam rilisnya
menyampaikan, “Ini merupakan seminar yang sangat bermanfaat, kita mendapat
informasi-informasi baru tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan dan
kebugaran tubuh. Selama ini banyak hal yang kita anggap sepele, tapi ternyata
dampak buruknya sangat besar bagi kesehatan tubuh kita. Begitu pula sebaliknya
banyak hal-hal kecil yang sering kita acuhkan, tapi ternyata faedahnya besar
bagi tubuh kita. Mudah-mudahan ke depan kerjasama yang semacam ini lebih
ditingkatkan, sehingga mahasiswa, khususnya anggota PPMI, bisa banyak mengambil
manfaat. Dan semoga mampu membantu kita dalam pemenuhan wawasan tentang
kesehatan. Lebih penting lagi menjadi sarana bagi kita untuk memahami tentang
pentingnya kesehatan.”[SK]

Komentar
Posting Komentar