------------------------------------------------
Teaser:
Berkembangnya agama Islam sejak 14 abad silam turut mewarnai sejarah peradaban dunia. Bahkan, pesatnya perkembangan agama Islam itu, baik di barat maupun timur, pada abad kedelapan sampai 13 Masehi mampu menguasai berbagai peradaban yang ada sebelumnya.
Tak salah bila peradaban Islam dianggap sebagai salah satu peradaban yang paling besar pengaruhnya di dunia. Bahkan, hingga kini, berbagai jenis peradaban Islam itu masih dapat disaksikan di sejumlah negara bekas kekuasaan Islam dahulu, misalnya Baghdad (Irak), Andalusia (Spanyol), Fatimiyah (Mesir), Ottoman (Turki), Damaskus, Kufah, Syria, dan sebagainya.
Ketika kita mencoba belajar sejarah sejatinya disitu pula kita sedang belajar memahami masa depan, seperti yang dimaksudkan dalam teory siklus sejarah ibn kholdun.
------------------------------------------------
Semoga semua dalam limpahan berkah dan barakah dari Allah ﷻ. Salam shalawat kita sanjungkan pada baginda penghulu semesta, sang legenda menyejarah, Rasulullah Muhammad ﷺ
“Barangkali kita masih enggan untuk mempelajari sejarah karena dia membahas tanggal, tahun dan nama yang susah dihafal”, tutur DR Raghib As Sirjani dalam Halaqah Tarikhiyah Qisshatu Al Andalus episode perdana, "padahal sebenarnya kita diperintahkan Allah untuk mentadaburi sejarah secara umum, tentang kebangkitan, kejayaan dan kejatuhan.”
Sesuai yang disampaikan oleh panitia, malam ini/sore ini insyaallah saya akan sangat berbahagia bisa menyampaikan tentang tema besar
Menjadikan sejarah sebagai alat baca untuk memproyeksikan masa depan
Teman-teman semuanya,
Sejarah, adalah ilmu yang lazim dipelajari oleh para pemimpin –selain Geografi dan Sastra- untuk membentuk pribadi yang siklusial ; memahami bahwa yang terjadi di dunia merupakan sebuah runtutan peristiwa berpola yang terulang-ulang sebagaimana siklus hujan.
Itulah mengapa sejarah dan matematika adalah sama; ia bukan ilmu mengira dan meramal. Ia adalah ilmu untuk mencari sebuah pola
“Saya masih meyakini bahwa sebuah peran besar sedang menunggu Umat Islam, dan masih jua saya meyakini bahwa sirkulasi sejarah yang merupakan sunnatullah akan mempertemukan Umat Islam dengan momentum sejarahnya; untuk melaksakan kewajibannya atas umat manusia”, tulis DR Abdul Halim ‘Uwais.
Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang apa makna kebangkitan (nahdhah) dalam peradaban Islam, makna kejayaan (tamkin), serta makna kejatuhan (suquth).
Ketiganya adalah masa yang terjadi karena sebab-akibat dan memiliki faktor internal maupun eksternal, serta menjadi kajian yang mendalam bagi para Ulama Sejarah Islam.
Dan dengan memahami pola ketiga gelombang itu, (naik, turun dan bangkit) kita bisa membaca kira-kira apa yang akan terjadi di masa depan kita
Karena peristiwa sejarah yang telah berlalu menjadi pelajaran sangat berharga bagi Umat Islam yang sedang berada di zaman terburuk tanpa kekhilafahan ini. Mudah-mudahan kita menjadi generasi yang mendapatkan momentum untuk menggapai tanggai naik kebangkitan, setelah kejatuhan yang pilu semenjak 94 tahun lalu, ketika Kekhalifahan Utsmani runtuh.
Pertanyaannya; lah, emang ada ya perintah dari Allah buat belajar sejarah? 😅 Ada ngga kira-kira?
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). [QS Ali Imran : 137]
Sunnah-sunnah Allah disini bermakna: setiap kemenangan ada syaratnya dan setiap kekalahan ada sebabnya
Darimana kita bisa mengetahui sunnatullah itu?
Sejarah
Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang lalim, [QS Ali Imran : 140]
Nah, sekarang yuk mari kita jalan ke tangga selanjutnya:
Kebangkitan
(نهضة)
Kebangkitan adalah ‘kebangunan menjadi sadar’ . Kata kebangkitan pertamakali menjadi istilah sejarah dan peradaban yang digunakan oleh Eropa di masa pertengahan.
Mereka menyebut kebangkitan dengan istilah 'Renaissance ’, suatu masa ketika Bangsa Eropa mengalami grafik naik setelah kejatuhannya di masa kegelapan ‘Dark Ages’, yang di saat yang sama, Umat Islam sedang mengalami masa keemasannya ‘Golden Ages’.
Adapun dalam sejarah peradaban Islam, kebangkitan diistilahkan dengan Nahdhah,
Nahdhah sebuah fase ketika Umat Islam mengalami kenaikan tingkat kesadaran beragama dan persatuan, setelah mengalami krisis eksistensi di hadapan banyak kekuatan di dunia.
Fase kebangkitan ini biasanya ditandai dengan kembalinya pemimpin Umat Islam pada sifat shalih dan iffah, Ulama menjadi pemersatu Umat dan masyarakat memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi pada para Ulama.
Beberapa contoh dari fase kebangkitan Umat Islam dalam rentang sejarah bisa dilihat dari masa ketika :
a. Fase ketika Umat Islam dipimpin oleh Umar bin Abdul Aziz selama 2 tahun lamanya dan mengembalikan kejayaan Dinasti Umawiyah di Damaskus.
b. Fase ketika Abdurrahman bin Muawiyah Ad Dakhil membangun kembali Negara Umawiyah di Andalusia.
c. Fase yang kita kenal dengan masa pembangunan Generasi Shalahuddin, yang dimulai dari Imaduddin Zanki, Nuruddin Zanki hingga Shalahuddin.
Semuanya sama: polanya : pemimpin sedang shalih shalihnya, Ulama sedang hebat-hebatnya, dan masyarakat sedang baik-baiknya.
Biasanya kebangkitan ini terjadi setelah bencana atau musibah yang besar
Apa aja syarat-syarat kebangkitan?
Kebangkitan dalam peradaban selalu mesti dimulai dari memetakan potensi 3 elemenya. Yaitu manusia, ruang dan waktu.
Malik Bin Nabi berpendapat bahwa untuk mencapai sebuah kebangkitan, manusia harus memaksimalkan ruang dan waktu karena dua elemen itulah yang jika dikelola manusia dengan baik, akan menjadi kebangkitan sebuah peradaban.
Manusia : umat Islam
Ruang : negeri tempat mereka berada
Waktu : masa dimana mereka hidup
Kalau ketiganya berhasil diharmoniskan dengan Islam, selalu saja ada wangi-wangi kebangkitan
Contoh Riiil
Bangsa Arab sebelum turunnya risalah Islam adalah bangsa yang terpisah-pisah oleh kabilah dan memiliki kebiasaan dan tradisi yang statis; berdagang, mengembara, dan segala hal yang dilakukan sebatas di kawasan jazirah Arab.
Mereka menjadi bangsa yang saling bermusuhan antar kabilah, hingga Islam datang dan mengubah pola pikir mereka menjadi umat besar yang memiliki kewajiban peradaban.
Manusia, ruang dan waktu, bisa mencapai kebangkitan dengan Islam sebagai mesinnya.
Selanjutnya kita beranjak ke tangga berikutnya, yaitu
Kejayaan
Kebangkitan ▶ Kejayaan
Kejayaan adalah fase ketika sebuah peradaban berada di puncak kegemilangannya.
Sebuah peradaban disebut berjaya ketika ada sebuah aturan masyarakat madani, yang menolong manusia untuk menambah karya dan produktivitasnya.
Kejayaan sebuah peradaban memiliki empat elemen penting, yaitu; kejayaan ekonomi, kejayaan politik, kemuliaan akhlaq dan pesatnya perkembangan ilmu dan seni.
Di fase kebangkitan, umat kita fokus pada agama dan meningkatkan kualitas keyakinan pada Allah. Maka Allah memberikan mereka kemenangan.
Nah, di masa kejayaan, umat ini sudah mencapai kemenangan. Muncullah masalah: lahirnya generasi baru yang lahir di era kemenangan, akan menjadikan mereka bermental lembek
Umat Islam sepanjang sejarahnya telah melalui berkali-kali masa kejayaan, di berbagai masa, berbagai bangsa, berbagai generasi dan berbagai tempat.
Di masa kejayaan Umat Islam, berkembang banyak sekali ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan penting. Seni menjadi kebanggaan dan wujud dari intelektualitas.
Majelis Ulama ada dimana-mana, membahas berbagai cabang disiplin ilmu dan keahlian.
Allah menggunakan kata kejayaan (tamkin) dalam Al Quran untuk mendeskrepsikan kemenangan Umat Islam dan keadaannya yang telah stabil (istiqrar) sebagai sebuah peradaban yang berkontribusi untuk kemajuan Umat Manusia.
Diantara contoh fase kejayaan yang pernah terjadi dalam sejarah Islam adalah :
A. Fase kepemimpinan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman atas Muslimin Bani Israel. Masyarakat hidup dengan makmur sejahtera dan aman. Masjid dibangun sebagai lambang ketundukan pada Allah. Dakwah Berjaya menuju negeri-negeri seperti Saba’.
B. Fase ketika kepemimpinan Umar bin Khattab ra, Umat Islam berhasil memiliki wilayah yang luas dan makmur, rakyat yang sejahtera dan shaleh, dan berkembangnya ilmu pengetahuan.
C. Fase kepemimpinan Harun Al Rasyid. Beliau menyeimbangkan antara pembangunan intelektual dan jihad melawan musuh-musuh Allah. Di zamannya, Baitul Hikmah dibangun, perpustakaan terbesar di dunia. saat itu. Rumah sakit menjamur. Setiap 100 orang ditemukan 13 dokter.
D. Fase kepemimpinan Sultan Sulayman Al Qanuni di masa kegemilangan Kekhalifahan Utsmaniyah. Beliau memimpin jihad ke berbagai Negara Eropa, menguasai samudera mediterania, membangun armada laut yang menjadi polisi Internasional maritime, dan menjadi tempat suaka bagi raja-raja Eropa yang meminta pertolongan.
Kebangkitan✅ ▶ Kejayaan ✅
Lalu....
Selanjutnya...
Sayangnya, biasanya setelah Kejayaan, akan lahir kejatuhan 😔
Maka tangga selanjutnya adalah
Kejatuhan
(Suquth)
Sebagaimana sebuah peradaban memiliki kebangkitan dan kejayaan, maka ia juga akan mengalami kejatuhan.
Kejatuhan sebuah peradaban terjadi ketika elemen-elemen yang membangunnya telah keropos dan runtuh.
Jika kejayaan adalah kumpulan kegemilangan pada sistem ekonomi, politik, kemuliaan akhlaq dan pengetahuan, maka keruntuhan bermula dari keruntuhan salah satu pilarnya.
Apakah Umat Islam bisa jatuh?
APAKAH UMAT ISLAM BISA JATUH?
Bisa ngga?
Jawabannya:
Sekarang kita jatuh
Namun, diantara semua pilar peradaban, yang paling mempengaruhi jatuhnya sebuah peradaban adalah...
merosotnya ketundukan masyarakat pada agama.
Tragedi kejatuhan dalam peradaban Islam seringkali disebut dengan istilah " Nazilah” yang jamaknya “Nawazil.”
😭😭😭
DR Fathi Zaghrut secara detail membahas berbagai macam tragedi keruntuhan yang melanda Umat Islam sepanjang sejarah.
Kemudian, beliau menemukan 4 tragedi yang paling buruk yang pernah menimpa Umat Islam.
Beliau merangkumnya dalam bukunya, An Nawazil fi Tarikh Al Islam, diantaranya :
a. Jatuhnya Baghdad di tangan pasukan Mongol tahun 656 H/1258 M, yang dilandasi karena perpecahan Umat Islam, kelalaian pemimpinnya yang malah suka mengumpulkan harta, serta pengkhianatan Syiah.
b. Jatuhnya Baitul Maqdis di tangan pasukan Salib tahun 492 H/1099 M, yang dimulai dari kekuasaan Syiah di Mesir dan pengkhianatannya pada Kekhalifahan Abbasiyah, berpecahnya Umat Islam dan kerusakan moral pemimpinnya, serta jauhnya masyarakat dari agama Islam.
c. Jatuhnya Andalusia di tangan pasukan katolik Castillia tahun 897 H/1492 M, yang dimulai karena menyebarnya musik dan syair-syair romantisme, mode pakaian berlebihan dan alat gitar, ditinggalkannya majelis ilmu, berpecahnya Umat Islam dan tergelincirnya akhlaq penguasa.
d. Jatuhnya Kekhalifahan Utsmani di Turki oleh Mustafa Kamal tahun 1924 Masehi, yang dilandasi oleh pengkhianatan Yahudi, menjauhnya umat Islam dari aturan Allah, serta Ulama menutup ruang ijtihad.
...
Sudah 94 tahun sejak kekhalifahan runtuh, dan sampai sekarang, lihat saja, dengan angkuhnya Donald Trump berani membangun Kedubes AS di tanah suci Baitul Maqdis
EPILOG
APA MANFAAT MEMPELAJARI KEBANGKITAN, KEJAYAAN DAN KEJATUHAN?
Dalam pandangan Ibnu Khaldun, peradaban selalu mengalami sirkulasi yang tidak akan berhenti sampai hari kiamat nanti.
Melaui teori beliau “The Culture Cycle Theory of History”, sebuah teori filsafat sejarah yang telah mendapatkan pengakuan dari Dunia Timur dan Barat, yang menjelaskan bahwa sebuah peradaban, memiliki masa naiknya, masa jayanya, kemudian masa menurun dan akhirnya masa lenyap atau hancur. Malik bin Nabi pun senada dengan teori ini.
Manfaatnya untuk kita adalah,
....sebagai manusia yang lahir di satu fase dalam fase peradaban, kita bisa mengukur ada di fase manakah kita, lalu apa saja hal-hal yang menciptakan keadaan kita hari ini, lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menciptakan fase berikutnya.
Pemahaman dan cara berfikir seperti itu mutlak harus dimiliki generasi muslim yang ingin kembali menegakkan risalah Islam.
Nah, inilah maksud dari menjadikan sejarah sebagai alat baca untuk memproyeksikan masa depan
“Tidak ada sesuatu yang baru di muka bumi ini”, tutur DR Raghib Sirjani. Allah telah lugas menjelaskan bahwa ada sunnah-sunnah yang mesti kita lakukan untuk memperoleh kejayaan, dan juga ada sunnah-sunnah yang menyebabkan kita kalah dan runtuh. Bagaimana cara mengetahuinya? Lewat sejarah, tentunya.
Nah, kira-kira, setelah membahas permasalahan ini, sadarkah kita berada di fase bagian mana? Wallahu A’lam.
______________________

Komentar
Posting Komentar