Kamis sore 23 April 2018 menjadi saksi beberapa orang yang berkumpul demi cinta dan demi ilmu di depan halaman hostel 1 IIU Islamabad. Tidak kurang peserta yang tertarik juga mengajukan diri melalui WA grup, walaupun ternyata yang mengajukan diri ini tidak menghadirkan fisiknya di lokasi diskusi darat. Pembicara adalah alumni IIU Islamabad, Nadzir Muayyid, yang memberikan gambaran diskusi dengan baik. Pemaparan kemudian mengalir seiring dengan penantian waktu berbuka puasa.
Peran sahabat dan kemuliaan mereka tergambar dari bagaimana sejarah mencatatnya. Diantaranya ada yang tidak malu-malu menempatkan diri, ada juga yang biasa-biasa saja di mata manusia, tetapi luar biasa di mata Rasulullah SAW. Diantara yang biasa itu adalah Julaibib ra.
Julaibib ra. adalah gambaran sosok serba terbatas; harta (faqir), bukan orang atau dari keluarga terpandang bahkan tidak dikenal siapa dan kemana nasabnya, tidak tampan malah kurang dari ukuran biasa. Hamipir pula tidak dikenal oleh sesama sahabat.
Setidaknya terdapat tiga kisah yang tercatat; proses menikah, bersegera dalam jawab seruan, dan jadi gugur syahid. Berikut cerita ringkas nya.
Pertama: Menikah, mimpi semua insan. Begitupun dengan beliau, ditanya Rasulullah saw hingga tiga kali dan jawabnya: Siapa yang hendak menikahkan dengan Julaibib? Jawaban yang penuh sadar akan taqdir dirinya yang bukan pilihan. Bahkan ditambahkan, saya laksana barang dagangan yang tak terjual. Rasulullah saw menjawab, tidak demikian bagi Allah. Rasulullah saw pun mengarahkannya tuk meminang putri dari keluarga Anshor terpandang. Sang Ayah dan Ibu menolak, namun tiba-tiba putri mereka mengingatkan dan bersikeras menerima pesan utusan Rasulullah saw ini, bahkan bilangnya: Akankah kalian hendak menolak perintah Rasulullah saw? Sekiranya Baginda Nabi meridloi kalian, nikahkanlah! Yakinlah Beliau tidak akan merugikanku. Orang tuanya luluh, sadar dan berlangsunglah pernikahan tersebut. Rasulullah saw mendoakan agar diluaskan kebaikanya dan dihindarkan dari segala kesulitan.
(اللَّهمَّ صُبَّ الخيرَ عليهما صبًّا ولا تجعَلْ عيشَهما كدًّا)
Kedua: Masa bahagia belum juga usai, terdengar seruan berjihad. Tanpa ragu Sahabat mulia ini pun bersegera memburu shaf terdepan. Ketika perang usai, berulang kali Rasulullah saw bertanya: siapa yang gugur? Hingga beliau sampaikan, "Carilah Julaibib ra!" Ditemukanlah dengan tujuh jasad musuh bergelimpang di sisinya. Ditambahkan, ada panah menancap di bagian depannya. Lalu Rasulullah saw mendekat dan menyandarkan Julaibib di hasta tangannya, sambil berkata: ini dariku dan aku darinya. Dengan kedua tangan mulia pula, Julaibib diangkat dan dikebumikan.
Dari tiga catatan tersebut. setidaknya terdapat beberapa pelajarannya:
Demikian pembelajaran yang dapat kita raih dari kisah Julaibib ra.
SEMOGA ALLAH MERAHMATI KITA, MAMPU MENELADANI KARAKTER "KHAIRUL QURUN/GENERASI TERBAIK" UMMAT INI. AMIN.
Jumpa lagi di haditsul masaa' berikutnya.
Peran sahabat dan kemuliaan mereka tergambar dari bagaimana sejarah mencatatnya. Diantaranya ada yang tidak malu-malu menempatkan diri, ada juga yang biasa-biasa saja di mata manusia, tetapi luar biasa di mata Rasulullah SAW. Diantara yang biasa itu adalah Julaibib ra.
Julaibib ra. adalah gambaran sosok serba terbatas; harta (faqir), bukan orang atau dari keluarga terpandang bahkan tidak dikenal siapa dan kemana nasabnya, tidak tampan malah kurang dari ukuran biasa. Hamipir pula tidak dikenal oleh sesama sahabat.
Setidaknya terdapat tiga kisah yang tercatat; proses menikah, bersegera dalam jawab seruan, dan jadi gugur syahid. Berikut cerita ringkas nya.
Pertama: Menikah, mimpi semua insan. Begitupun dengan beliau, ditanya Rasulullah saw hingga tiga kali dan jawabnya: Siapa yang hendak menikahkan dengan Julaibib? Jawaban yang penuh sadar akan taqdir dirinya yang bukan pilihan. Bahkan ditambahkan, saya laksana barang dagangan yang tak terjual. Rasulullah saw menjawab, tidak demikian bagi Allah. Rasulullah saw pun mengarahkannya tuk meminang putri dari keluarga Anshor terpandang. Sang Ayah dan Ibu menolak, namun tiba-tiba putri mereka mengingatkan dan bersikeras menerima pesan utusan Rasulullah saw ini, bahkan bilangnya: Akankah kalian hendak menolak perintah Rasulullah saw? Sekiranya Baginda Nabi meridloi kalian, nikahkanlah! Yakinlah Beliau tidak akan merugikanku. Orang tuanya luluh, sadar dan berlangsunglah pernikahan tersebut. Rasulullah saw mendoakan agar diluaskan kebaikanya dan dihindarkan dari segala kesulitan.
(اللَّهمَّ صُبَّ الخيرَ عليهما صبًّا ولا تجعَلْ عيشَهما كدًّا)
Kedua: Masa bahagia belum juga usai, terdengar seruan berjihad. Tanpa ragu Sahabat mulia ini pun bersegera memburu shaf terdepan. Ketika perang usai, berulang kali Rasulullah saw bertanya: siapa yang gugur? Hingga beliau sampaikan, "Carilah Julaibib ra!" Ditemukanlah dengan tujuh jasad musuh bergelimpang di sisinya. Ditambahkan, ada panah menancap di bagian depannya. Lalu Rasulullah saw mendekat dan menyandarkan Julaibib di hasta tangannya, sambil berkata: ini dariku dan aku darinya. Dengan kedua tangan mulia pula, Julaibib diangkat dan dikebumikan.
Dari tiga catatan tersebut. setidaknya terdapat beberapa pelajarannya:
- Rasulullah saw sosok luar biasa dapat mengenal setiap pribadi sahabat.
- Ketentuan Allah yang diterimanya tidak menghalangi tuk berkontribusi. Keterbatasan tidak menghalangi seruan Allah dan Rasul-Nya.
- Bersegera menjawab seruan Allah dan Rasulullah saw, salah satu karakter "khoirul qurun". Tanpa menunda-nunda, apalagi lupa.
- nilah janji Allah, orang baik diperuntukkan baginya orang terbaik pula. Alkisah, sosok istrinya berbanding terbalik dengan Julaibib kecuali sama dalam keimanan dan ketaqwaannya. Ia kaya raya, dari keluarga terpandang dan jelita.
- Tidak ada 'kerugian" selama dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dikisahkan, sepeninggal Julaibib, istrinya dikenal paling dermawan dan serba berkecukupan. Min haisu la yahtasib.
- Terkenal di mata manusia, bukanlah jaminan/ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah dan Rasul-Nya. Begitu juga dalam kontribusi pada Islam. Dalam kesunyian tanpa hingar bingar, Allah dan Rasul-Nya menyayangi sahabat mulia ini.
- Anak shalih adalah karunia, ia dapat menjaga orang tua dari kekeliruan, bahkan dari murka Allah dan Rasul-Nya.
- Menjadi syahid adalah kerinduannya.
Demikian pembelajaran yang dapat kita raih dari kisah Julaibib ra.
SEMOGA ALLAH MERAHMATI KITA, MAMPU MENELADANI KARAKTER "KHAIRUL QURUN/GENERASI TERBAIK" UMMAT INI. AMIN.
Jumpa lagi di haditsul masaa' berikutnya.
Komentar
Posting Komentar